Antusiasme Warga Kampung Kedokan

Posted by Unknown | Jumat, 07 Maret 2014 | Posted in ,

Rabu (19/02/14) survei ke kampung Kedokan. Cuaca sore itu sedikit mendung dan jalanan becek bercampur lumpur. Kondisi ini juga diperparah dengan kondisi jalan yang sampai hari ini belum ada perbaikan dari pemerintah. Entahlah, apa karena belum ada dana, atau sebenarnya sudah ada tetapi mengalir ke kantong sendiri.

Kondisi jalanan yang rusak dan berlumpur itu menemani perjalanan kami hingga ke kampung Kedokan. Di sana kami disambut dengan hangat oleh Sarif selaku tuan rumah, dan tak berapa lama kami ngobrol, minuman teh panas pun datang. Sesekali kami menikmati hidangan yang sudah disuguhkan disela-sela membahas agenda untuk tanggal 22 Februari 2014 nanti.

Kami diskusi terkait konsep, materi dan hal-hal yang dibutuhkan. Tetapi, Asep katanya belum pasti. Apakah nanti bisa ikut hadir  atau tidak, saat itu Asep tidak berani untuk memastikan hadir. Pasalnya, tanggal 22 Februari 2014 Asep masih ada acara di Cilegon, katanya. Tetapi Asep berusaha untuk bisa datang dan hadir ke acara ini.

Karena waktu sudah larut sore, kami pun izin untuk pulang. Tetapi tuan rumah menawari makan dan semuanya sudah disiapkan. Meski merepotkan, dan sangat sungkan kami pun meng-iya-kan. Selesai makan sore, kami sholat Ashar berjama'ah di rumah Syarif. Selesai sholat kami berpamitan.

Persiapan Sebelum Acara

Hari Sabtu (22/02/14) pukul 10.30 Syarif tiba di rumah. Kami sudah janji untuk menyiapkan materi yang akan diberikan nanti malam. Tak tak terasa waktu dzuhur tiba dan hujan pun turun. Selepas shalat dzuhur kami melanjutkan persiapan materi, begitu selesai, hujan juga sudah agak reda. Karena dirasa cukup reda, kami pun berangkat ke rumah Asep untuk mengambil infocus.

Meski gerimis kecil menemani perjalanan kami ke Kampung Calingcing dan ke Kampung Kedokan, rasanya terbayar sudah ketika menyaksikan antusiasme anak-anak Kampung Kedokan untuk menyaksikan acara yang akan kami suguhkan. Bahkan ketika kami tiba dengan membawa infocus, anak-anak langsung bersiap-siap.

Antusiasme anak-anak luar biasa, sehingga banyak yang berdatangan. Karena takut salah paham, akhirnya kami sampaikan acaranya nanti setelah ngaji. “Kalau belum ngaji nanti gak boleh ikutan pokoknya…. jadi harus ngaji dulu ya….” Bujuk Kak Amir. Untung saja mereka pun mengerti dan meng-iya-kan apa yang disampaikan tadi.

Setelah dicoba, ternyata temboknya agak kurang putih. Akhirnya kami sempatkan sejenak untuk mencat dinding tersebut, khususnya pada bagian yang akan dijadikan titik layar infocus. Meski hasilnya kurang signifikan dan nyaris tidak ada perubahan yang berarti, tetapi yang penting sudah berusaha.

Acara Berlangsung

Selepas sholat Magrib, ada sebuah pesan masuk. Pesan itu dari Syarif, isi pesan itu memberitahukan bahwa yang hadir itu malah kebanyakan ibu-ibu ketimbang anak-anaknya. Waktu itu hanya bisa tersenyum dan menyampaikan untuk tetap tenang dan biasa saja. Meski ini aneh tetapi harus diapresiasi. Toh ibu-ibu memiliki keingintahuan yang lebih, khususnya untuk kampung Kedokan.

Acara seharusnya dimulai pukul 19.30, tetapi karena datang terlambat maka acara baru dimulai pukul 20.15. Meski datang terlambat, kami sebisa mungkin untuk tampil seprofesional mungkin dan memberikan permohonan maaf atas keterlambatan ini. Karena acara sudah dibuka oleh Kak Mimin dan Kak Sarif, maka Kak Amir langsung masuk dan menyampaikan materinya.

Materi yang disampaikan yaitu tentang dream trigger (menggerakan mimpi). Hampir sama dengan roadshow yang pertama, hanya saja konten nya diubah dan ditambahkan games dan tontonan yang berbeda. Tetapi secara keseluruhan konsepnya sama dengan sebelumnya. Tak ketinggalan lagu-lagu dan hadiah menjadi rangkaian yang wajib dalam menyampaikan materi pada malam itu.

Karena ada ibu-ibu di luar, tak lupa pertanyaan itu juga diberikan khusus untuk ibu-ibu. Bagi yang mampu menjawab maka berhak mendapatkan hadiah dari pemateri. Meski tak seberapa tetapi sangat cocok untuk menarik keaktifan mereka. Karena dirasa sudah cukup, kini saatnya bagian Kak Asep yang berbagi ilmu dan pengalaman dengan para peserta.

Meski sempat pulang ke rumah dan hanya menaruh barang-barang, Kak Asep tetap menyempatkan hadir. Dari wajahnya terlihat raut wajah kecapekan, tetapi di hadapan peserta Kak Asep berusaha tampil semaksimal dan seprofesional mungkin. Terbukti para peserta seolah disihir dibuatnya, dengan kisah-kisah perjalanannya ketika mengunjungi negri nan jauh disana, yaitu Korea.

Tak lupa, Kak Asep juga memberikan video tentang perjalanannya ketika hendak berangkat dan sesudah berada di sana. Semua itu bisa terwujud karena berawal dari mimpi. Berawal dari sebuah cita-cita. Cita-cita itu tidak akan terwujud kalau hanya sebatas dibayangkan, tanpa ada upaya dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.

Untuk mewujudkannya, tentu dengan cara –cara yang sangat menyakitkan dan itu tak mudah. []


Roadshow Pertama, Ke Kampung Mayat

Posted by Unknown | | Posted in ,

Meski kondisi tanah belum kering betul pasca turun hujan, tak menciutkan langkah kami untuk memulai kegiatan roadshow. Sekitar pukul 16.00, projector dicek dan sekaligus dicoba, karena ditakutkan ada yang cacat, dan alhamdulilah ternyata normal. Tapi masalah yang muncul ketika itu muncul ialah kabel untuk suara dari laptop/notebook ke sound tidak pas.

Dari kejadian itulah akhirnya kami mendapatkan satu "amunisi" baru yang sangat luar biasa. Mochamad Syarif itulah nama lengkapnya. Berawal dari kegelisahan untuk mencari sound pengganti yang tadi tidak berfungsi, akhirnya kami malah dapat dua keuntungan sekaligus. Dapat amunisi baru dan ternyata Syarif juga membawa sound yang kami butuhkan.

Kami saling berkenalan, kemudian disampaikanlah visi-misi dan tujuan dari forum pemuda penggerak desa yang kami buat ini. Meski waktu itu Syarif masih agak malu-malu dan banyak diam, kami percaya dibalik diamnya adalah sinyal bahwa ia setuju dengan forum ini. Selesai dari situ akhirnya kami ngobrol kesana-kemari.

Nanti kita berangkat ke kampung Kupluk setelah magrib… tempat ini belum fiks sebenarnya, kalau ada masukan atau usul tempat yang lain silakan… kami sangat senang.” Seketika itu juga, syarif memberikan usul untuk di kampung Mayat. Alasannya waktu sangat sederhana, ada teman sekolah dan kebetulan bapaknya ketua RT (Rukun Tetangga) juga.

Atas masukkan dari Syarif itulah, akhirnya rencana yang sudah kami rancang untuk roadshow ke kampung Kupluk akhirnya di pindah ke Kampung Mayat. Kampung Mayat ini adalah bagian dari desa Panunggulan, tepatnya di sebelah utara kampung Sukasari. Adapun alasan mengapa menggunakan nama Mayat (manusia yang sudah meninggal) kami juga tidak tahu persis asal-muasalnya.

Setelah sholat magrib kami berangkat menuju kampung Mayat. Kami berangkat dengan tiga motor, dan tak lupa menjemput salah satu "amunisi" yang katanya mau ikutan juga, Minarsih namanya. Setelah dijemput barulah kami menuju tempat tujuan. Meski kondisi jalannya rusak dan berlubang tak mengendurkan semangat kami malam itu.

Memulai Acara

Begitu tiba di Kampung Mayat, tak ada yang aneh sedikitpun. Nama kampung Mayat hanya sebuah nama belaka, dan tidak ada kesan angker sama sekali. Malahan para warga pada asyik ngbrol di depan rumahnya dengan tengga yang lain. Hingga kami menghentikan laju sepeda motor, di depan sebuah rumah yang cukup sederhana.

Setelah menyampaikan tujuan kedatangan kami ke ibu RT kami pun diterima dengan baik dan dipersilakan untuk mengisi acara pada malam itu. Ternyata Ibu RT sangat anstusias dan langusng menyuruh anak-anak yang lain untuk bisa datang ke rumahnya. Meski hanya dengan pesan sederhana dan itu mulut ke mulut ternyata sangat efektif. Terbukti, tak butuh waktu lama anak-anak pun datang beramai-ramai.

Anak-anak yang hadir lumayan banyak dan kami memulai acara pukul 20.00. Acara dibuka oleh Kak Amir. Tampil dengan mengenakan topeng monyet sontak membuat anak-anak kaget. Setelah dibuka barulah anak-anak diajak untuk belajar dan bermain. Dan dengan beberapa game dan lagu, anak-anak sudah mulai akrab. Kak amir tidak sendirian, ada Kak Syarif, Kak Mimin dan Kak Asep Juga.

Tak hanya itu, dengan beberapa pertanyaan pun anak-anak sangat antusias untuk menjawabnya. Bagi siapa yang bisa menjawab dengan tepat maka anak tersebut akan dapat hadiah, berupa permen. Meski tak seberapa, tetapi sangat cocok untuk memancing anak-anak dalam menjawab tiap pertanyaan yang Kak Amir lemparkan.

Waktu 15 menit ternyata sudah berlalu, dan kini gantian Kak Asep Budianto yang mengisi. Anak-anak diajak untuk bermimpi dan memiliki cita-cita. Ide ini digagas karena kebanyakan anak-anak kampung itu tahunya ya hanya sekedar jadi guru, dan dokter saja. Padahal banyak cita-cita lain di luar sana.

Tak hanya itu, anak-anak juga diajak untuk bagaimana meraih cita-cita yang mereka inginkan. Kuncinya yaitu kerja keras dan pantang menyerah. Kak Asep selalu bilang “kamu ingin jadi dokter..?? terus usaha apa yang sudah kamu lakukan untuk menjadi dokter itu sekarang??... atau mata pelajaran di sekolah yang paling kamu sukai apa saja??.. ”

Kak Asep juga mengajak anak-anak untuk menyaksikan kisah anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik tetapi karena kerja keras akhirnya cita-citanya tercapai. Meski mereka dilahirkan tidak memiliki kedua tangan dan bahkan juga ada yang tidak memiliki kaki, mereka sedikitpun tak pernah mengeluh, mereka selalu tersenyum dan yakin untuk hidupnya.

Sebelum ditutup, Kak Asep menyampaikan bahwa semuanya berawal dari mimpi. "Apapun itu pasti diawali dari sebuah mimpi.. maka bermimpilah..."

Setelah acara selesai dan ngobrol dengan tuan rumah, kami pamit dan tak lupa menyempatkan untuk berfoto bareng dengan ibu dan bapak beserta keluarga kecilnya. Semoga kegiatan bisa terus berjalan, "dulu juga pernah ada dari mahasiswa yang KKN.. tapi cuma sekali aja... " papar ibu RT. "insyaallah kalau tiap kampung sudah ada perwakilan kegiatan ini bisa rutin ibu.." inilah jawaban kami saat itu. Kami pun pamit. [Zah]





Langkah Awal PePeDe

Posted by Unknown | | Posted in ,

Rencana awal kami (Amir dan Asep), ingin mengumpulkan pemuda yang memiliki visi dan misi yang sama dalam forum pemuda penggerak desa. SMS undangan pun kami sebarkan ke yang lain, kami menunggu di tempat yang tertulis di SMS. Saat itu kami memilih tanggal 09 Februari 2014 sebagai tanggal yang tepat, karena bertepatan dengan hari minggu.

Setelah menunggu beberapa jam akhirnya tak ada satupun yang hadir, hasilnya nihil. Akhirnya kami menggunakan Plan B sebagai alternatif. "Kalau kita kayak begini nanti malah gak jalan, gimana kalau kita langsung gerak aja.." inilah tawaran Asep waktu itu. Tanpa pikir panjang Amir pun mengiyakan tawaran yang luar biasa ini. Akhirnya mereka berdua merancang konsep dan menentukan tempat.

Pilihan tempat jatuh pada kampung Kupluk. Setelah menentukan tempat, kami menentukan tema materi yang akan disampaikan. Setelah selesai dan dirasa cukup, akhirnya bahasan yang selanjutnya ialah masalah perlengkapan. Setelah dicek perlengkapan yang dibutuhkan apa saja dan dirasa cukup, akhirnya kini tinggal menyediakan pojektor/infocus.

Dari hasil survei Amir waktu di Jogja, kurang memuaskan. Selain merk yang ditawarkan banyak macam nya, harganya juga lumayan menguras kantong. Ditambah lagi dengan spesifikasi yang kurang paham betul. Akhirnya dengan kesepakatan, kami akan mencari di Serang saja. Kebetulan, sore itu Amir akan berkunjung ke Cigodeg dan mengunjungi teman yang akan berangkat ke Kupang.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Asep. Asep ikut ke Cigodeg dan setelah urusan Amir selesai, Asep akan langsung mengajak Amir untuk mencari Infocus ke Serang. Sebab kalau tidak bergerak cepat, besok lusa asep akan berangkat ke Jakarta.

Setelah keliling Ramayana dan kembali ke Ciceri, akhirnya kami menemukan harga yang sesuai. Setelah survei dirasa cukup kami kembali ke kost. Setelah sholat Isya, kami berdiskusi terkait mana yang sebaiknya diambil, tipe yang 114 atau yang 116. Karena Asep yang menentukan, maka Amir hanya memberikan masukan saja.

Esok paginya, kami berpisah setelah makan siang di kantin kampus UNTIRTA.

Calon KADES Termuda, Andriyani Optimis Menang

Posted by Unknown | Kamis, 23 Mei 2013 | Posted in ,

Bakat seseorang itu sudah terlihat sejak kecil atau ketika masa-masa sekolah. Inilah yang saya rasakan dengan salah seorang sosok kakak kelas ketika masih di Pesantren Modern Daar Et-Taqwa dulu. Kak Andri, begitulah kami biasa menyapanya. Bakat kepemimpinanya sudah menonjol ketika menjadi mudabbir (pembimbing) di pesantren.

Tak hanya itu, pria asli Caringin - Bojot ini juga begitu mahir dalam fublick speaking. Hal ini terbukti ketika ada acara-acara diskusi panel, maka orang yang paling pertama bertanya adalah Kak Andri. Kala itu juga saya sempat mengidolakan beliau. Saya ingin bisa seperti Kak Andri kelak. Ketika ada diskusi panel di pesantren, saya pun tidak mau ketinggalan untuk mengikuti jejak beliau, yang pastinya selalu bertanya.

Kini, siapa sangka bahwa Kak Andiyani akan mencalonkan diri menjadi kepala desa (KADES) Bojot. Begitu tahu kabar tersebut, saya pun mencoba menghubungi beliau melalui jejaring sosial dan sempat mengirimkan beberapa pertanyaan. Inilah pertanyaan yang sempat saya tanyakan kepada beliau. 

Apa sih motivasi Kak Andiyani untuk menjadi kades? 
Yg jelas motivasinya ingin merubah tatanan pemerintahan di Desa Bojot, dan menjadikan Bojot Desa yang maju dan bermartabat,, 

Persiapan apa saja yang sudah dilakukan? 
Kalau persiapan untuk sementara ini banyak silaturahmi sambil sosialaisasi. 

Berapa besar peluang Kak Andriyani untuk menang? 
Untuk pelung, ane optimis menang, soalnya modal awal seorang calon adalah optimis, 

Kendala apa saja kah yang saat ini dirasakan? 
Kalau kendala pola fikir masyarakat yg masih mengedepankan money politik dibandingkan dengan memilih calon yg perpendidikan yg punya visi dan misi jelas untuk memebawa peubahan. 

Pesan Kak Andriyani untuk alumni dartaq yang lain? 
Pesan buat rekan-rekan alumni mohon do'anya. Mudah - mudahan Allah mengabulkan cita-cita mulia ini amin. 

Bagaiamana sambutan masyarakat tentang Kak Andri? 
Insyallah kalau sambutan masyarakat baik, soalnya ane selama ini mengabdi di desa. Akan tetapi tidak semua masyarakat menyabut baik karena ada yg pro dan kontra.

Berkaitan dengan hal itu semua, mudah-mudahan apa yang beliau cita-citakan bisa terrealisasikan dan semuanya diberikan kemudahan oleh Allah swt. Saya sebagai adik kelasnya tahu betul bagaimana kepemimpinan beliau. Saya optimis bahwa beliau bisa terpilih menjadi Kades Bojot, serta menjadi pemimpin yang amanah.

Empat Sifat Pemimpin
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki empat sifat. Pertama adalah siddiq (benar) yaitu berbicara dengan sebenar-benarnya dengan kata lain tidak berbohong. Kedua, adalah tabligh (menyampaikan) yaitu menyampaikan apa yang sebenarnya, tidak dikurangi atau dilebihkan. Ketiga, adalah amanah (dapat dipercaya) membawa misi untuk kepentingan orang banyak (masyarakat) bukan kepentingan pribadi. Banyak pemimpin yang mengatakan bahwa “jika saya terpilih akan melakukan ini dan itu... “ tapi yang terjadi setelah terpilih malah lupa dengan janji-janjinya itu. Apakah pemimpin yang demikian dapat dipercaya lagi? Terakhir, yang keempat adalah fathanah (pintar/cerdas)

Latar belakang pendidikan beliau adalah Pondok Pesantren Daar Et-Taqwa. Sehingga empat elemen ini sudah dipahami dengan baik. Terlebih latihan kepemimpinan di pesantern sangat dinomorsatukan. selain itu juga, nilai-nilai empat elemen ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada seluruh santri. Saya yakin, bahwa sifat ini mendarahdaging dalam setiap diri alumninya. Termasuk dengan calon Kades Bojot yang satu ini. 

Salah satu kenapa seseorang pantas menjadi pemimpin ialah karena ia cerdas. Cerdas tidak hanya sebatas teori, melainkan cerdas secara aplikasi. Lebih luas lagi yaitu cerdas dalam memecahkan masalah mapun mengambil keputusan. Saya yakin keempat sifat ini sudah ada pada sosok beliau. Untuk itu, bagi masyarakat Desa Bojot jangan ragu untuk memilihnya.

Dari percakapan di atas sudah jelas, bahwa visi yang ditawarkan adalah ingin membenahi Desa Bojot supaya menjadi desa yang bermartabat. Tak hanya itu, masyarakat juga harus berani jujur. Dalam arti tidak mau menerima money politic, sebab hal itu justru akan merusak ke(objektifitas)an dalam memilih. Dengan dipimpin Kades yang muda, bersih, jujur, bersih dan cerdas, untuk mengubah bojot yang bermartabat akan terrealisasi. [zah]
 

Pemprov Banten Harus Benahi Pendidikan

Posted by Unknown | Rabu, 22 Mei 2013 | Posted in

Serang – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan melakukan aksi di Kantor Gubernur Banten, pada Hari Pendidikan Nasional, Kamis (2/5/2013). Para mahasiswa itu menuntut Gubernur Banten membenahi bidang pendidikan yang ada di Provinsi Banten.

Koordinator Lapangan Muhammad Baydoi dalam orasinya, pelaksanaan Ujian Nasioanl (UN) tingkat SMP, SMA dan SMK pada tahun 2013 banyaknya kasus yang membuat perserta UN telat ikut ujian karena adanya keterlambatan soal. Untuk itu, mahasiswa mendesak pemerintah menghapuskan UN.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga menolak kurikulum 2013, karena rencana perubahan tersebut masih membingungkan banyak kalangan dan masih menjadi perbedaan. Misalnya pelajaran IPA dan IPS yang seolah “hilang” sebagai mata pelajaran.

Mahasiswa juga menolak Undang Undang Perguruan Tinggi pada tahun 2012 karena menimbulkan polemik bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Hal ini tercermin oleh beberapa pengaturan dalam UU PT yang sangat kontrofersi, dan terjadi pemisahan keuangan perguruan tinggi dari keuangan negara yang berarti pula otomoninya non akademik.

Selain melakukan orasi, sejumlah mahasiswa juga berupaya menerobos masuk ke halaman Kantor Gubernur Banten karena ingin menyampaikan langsung aspirasinya kepada Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Namun upaya untuk bisa masuk kehalaman kantor gubernur itu, dihadang aparat keamanan dari Polres Serang dan Satpol PP.

Aksi saling dorong pun tidak dapat dihindari, bahkan dari aksi saling dorong pun berkembang menjadi bentrokan fisik antara mahasiswa dan polisi. Bentrokan semakin meluas hingga akhirnya terjadi aksi saling lempar air gelas mineral hingga batu. Bahkan dari aksi saling lempar itu, dua orang wartawan terkena lemparan air gelas mineral oleh anggota polisi. Kapolres Serang Adi Soeseno, langsung angkat suara dan meminta maaf kepada para wartawan yang terkena lemparan air mineral. “Sekali lagi saya meminta maaf kepada wartawan yang terkena, mungkin anggota saya tidak sengaja, karena terjadi bentrokan kecil. Jadi saya bener-benar meminta maaf untuk wartawan,” ujarnya (ildhan)

Tarif RSUD Banten Tidak Banyak Berubah

Posted by Unknown | | Posted in ,

Serang - Tarif retribusi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten tidak banyak berubah dari usulan yang tertuang dalam Raperda retribusi RSUD Banten dengan Perda yang sudah disahkan. Perubahan hanya terjadi pada Tarif Instalasi Gawat Darurat (IGD), tarif rawat jalan dan tarif fasilitas perawatan.

Berdasarkan perbandingan antara dokumen Raperda dengan Perda yang baru disahkan dalam Rapat Paripurna DPRD Banten Rabu, (17/4/2013) tarif IGD jenis pemeriksaan dokter umum turun Rp15 ribu dari Rp60 ribu menjadi Rp45 ribu. Sedangkan untuk jenis pemeriksaan dokter spesialis turun Rp5 ribu dari Rp85 ribu menjadi Rp80 ribu. Untuk tarif rawat jalan juga mengalami penurunan dari Rp75 ribu menjadi Rp60 ribu.

Sedangkan tarif fasilitas perawatan yang mengalami penurunan hanya untuk kelas III atau ruang rawat inap standar dari Rp95 ribu menjadi Rp60 ribu dan ruang perawatan kesehatan jiwa dari Rp225 ribu menjadi Rp125 ribu.

Untuk kelas II atau deluxe naik dari Rp115 ribu menjadi Rp150 ribu. Begitu pula untuk kelas satu atau suite dari Rp165 ribu menjadi Rp250 ribu. Begitu pula untuk  delapan jenis ruang inap lainnya mengalami kenaikan.

Untuk tarif lainnya seperti MCU, Laboratorium Patologi Klinik, radiologi, rehabilitasi medik dan lainnya rata-rata tidak mengalami perubahan dari usulan semula yang tertuang dalam draf Raperda Retribusi Pelayanan Kesehatan RSUD Banten.

Wakil Gubernur Banten Rano Karno dalam sambuatnnya usai menandatangani pengesahan Raperda Pembentukan RSUD Banten dan Raperda retribusi RSUD Banten mengatakan bahwa besaran tarif  retribusi dihasilkan dari perhitungan secara teliti, cermat dan matang.

"Untuk terpenuhinya pembiayaan pelayanan pada rumah sakit, selain dibiayai dari APBD, operasional Rumah Sakit Umum Daerah Banten masih memerlukan subsidi silang dari masyarakat mampu kepada masyarakat tidak mampu," katanya.

Berdasarkan pemikiran tersebut menurutnya, tarif kelas II sampai dengan VVIP mengalami kenaikan. "Bagi masarakat yang memiliki jamkesmas, jamkesda, penerima jaminan kesehatan dan masyarakat tidak mampu dibebaskan dari kewajiban membayar retribusi atau digratiskan," katanya.

Selain pengesahan kedua raperda tersebut, DPRD Banten juga menggelar paripurna pengumuman pergantian Wakil Ketua DPRD Banten dari Fraksi PDI P Jayeng Rana kepada Asep Rahmatullah dan pergantian alat kelengkapan DPRD Banten dari Fraksi Hanura serta penutupan masa sidang pertama tahun sidang 2013. (zey)

Angka Siswa Tidak Sekolah Jenjang SMA Tinggi

Posted by Unknown | | Posted in ,

Serang –  Angka usia sekolah tingkat SMA yang tidak sekolah, lebih tinggi dari angka siswa yang sekolah tingkat SMA. Banyaknya siswa yang tidak sekolah itu, karena salah satunya factor ekonomi, dan masih minimnya bangunan sekolah di kabupaten/kota.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Hudaya Latuconsina mengatakan, warga usia sekolah tingkat SMA yang tidak bersekolah saat ini mencapi 600 ribu orang. Sedangkan untuk warga yang bersekolah hanya sekitar 285 ribu orang. “Jumlah siswa yang tidak sekolah tingkat SMA d Banten itu sangat inggi,” ujar Hudaya Latuconsina, usai melaksanakan peringatan hari pendidikan nasional 2013, Kamis (02/5/2013).   

Dalam acara tersebut dihadiri Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Wakil Gubernur Banten Rano Karno dan Ketua DPRD Banten Aeng Haerudin, serta beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)  Provinsi Banten dan unsur muspida lainya.

Menurut Hudaya, upaya Provinsi Banten pada tahun 2013 ini untuk meningkatkan angka anak sekolah di tingkat SMA itu akan membangun 6 unit sekolah baru yang dibangun di beberapa daerah di Banten. Namun, yang menjadi kendala yaitu masalah lahan. “Kabupaten/kota yang menyediakan lahanya, dan Peovinsi Banten yang membangunya. “Dananya telah disiapkan sekitar 400 miliar untuk enam sekolah tersebut,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dalam sambutanya mengatakan, pentingnya Pendidikan yang ada di Banten untuk terus dikembangkan. Hal itu juga sebagai amanat Undang-undang Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional. “Pemerintah Provinsi Banten terus berupaya bersama-sama pemerintah Kabupaten/Kota  se Provinsi Banten untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Provinsi Banten ini,” kata Atut.

Menurut Atut, Keberhasilan bidang pendidikan akan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan, yang telah direncanakan oleh pemerintah kabupaten/kota, Provinsi maupun tingkat nasional. “Saya mengharpkan dukungan pemerintah pusat khusunya pada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  untuk memenuhi ketersediaan ruang kelas untuk Sekolah Menegeah Atas (SMA) atau sederajat di Provinsi Banten karena masih kurangnya ruang kelas,” ujar Atut.

Untuk diketahui indikator capaian kinerja pada tahun 2012 di bidang pendidikan seperti angka Rata – Rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 8,1 tahun, Angka Partisipasi Murni (APM) di tingkat SD dan sederajat sebesar 96,13 % dan angka partisipasi kasar (APK) di tingkat smp dan sederajat sebesar 96,1 % serta SMU dan sederajat sebesar 58,94 %. (dinar/ildan)

Ketidakbecusan Pengelolaan Anggaran Jemaah Haji

Posted by Unknown | | Posted in

Pemprov Banten memberangkatkan 200 orang untuk Umroh, ritual agama bersifat sunah dengan menghabiskan Rp 5,2 miliar tahun 2012. Apakah ini bentuk penghamburan uang rakyat atau cermin ketidakbecusan aparat dalam mengelola anggaran. Luar biasa !!!

Belum jelas benar di pos anggaran manakah Pemprov Banten mengalokasikan dana itu. Semula kita menduga di pos bantuan sosial (Bansos), tetapi Kepala DPKAD Banten, Zainal Mutaqien membantahnya. Kata dia, anggaran itu di Biro Kesra. Tidak disebutkan, apakah ditaruh di dana hibah atau pos lainnya.

Pos bantuan sosial maupun hibah memang memiliki ketentuan yang bersifat multi tafsir, tidak memiliki kriteria yang jelas, apa saja yang boleh dianggarkan dalam bansos maupun hibah. Kriterianya hanya hibah  diberikan secara sepesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak mengikat, sesuai dengan kemampuan daerah. Khusus Bansos tidak perlu spesifik ditentukan peruntukannya.

Multi tafsir itu terlihat sejak PP No 58 tahun 2008 tentang pengelolaan keuangan daerah, Permendagri No 59 tahun 2007, Peraturan Menteri Dalam Negeri No 32 tahun 2008 tentang pedoman penyusunan anggaran tahun 2009 hingga Permendagri No 22 tahun 2011 tentang pendoman penyusunan anggaran tahun 2012.

Lalu dalam peraturan itu tercantum kalimat yang sangat meninabobokan alias orang dipaksa memiliki kesan tentang pemerintahan atau pegawai negeri sipil yang bersih. Kalimat itu adalah “mempertimbangkan rasionalitas dan  kriteria yang jelas dengan memperhatikan asas  manfaat,  keadilan,  kepatutan,  transparan, akuntabilitas  dan kepentingan masyarakat luas”.

Dalam konteks pengalokasian anggaran umroh Rp 5,2 miliar, mari kita kritisi dengan kalimat yang multif tafsir itu. Rasionalitas siapakah sehingga perlu dianggarkan Rp 5,2 miliar untuk umroh? Pastinya rasionalitas pejabat alias PNS kan? Asas manfaat, tentu sangat manfaat bagi 200 penerima umroh tapi tidak manfaat bagi 9 juta lebih warga Banten.

Azas keadilan, tentu adil bagi penerima umroh yang berjumlah 200 orang, tetapi tidak bagi ratusan anak SD yang terpaksa belajar di gedung yang nyaris ambruk atau belajar di balai desa. Atau tidak adil bagi penerima bantuan langsung bernilai Rp 150.000 per bulan selama 9 bulan. Sedangkan penerima umroh Rp 26 juta per orang.

Azas kapatutan. Mungkin patut bagi 200 penerima umroh karena merasa sudah “berjasa” kepada Banten. Tetapi tidak patut bagi ratusan ribu orang miskin di Banten yang terus meningkat, gedung sekolah yang banyak ambruk dan lainnya.

Transparan. Azas ini hanya berlaku bagi kalangan pejabat atau PNS yang mengetahui alokasi umroh tersebut. Tetapi tidak transparan bagi 9 juta lebih warga Banten. Persoalan umroh ini mencuat karena terus ditanya-tanya oleh wartawan yang memesalahkan ketidakberesan pengurusan passport untuk umroh, bukan mempertanyakan pengalokasian anggaran itu sendiri.

Azas akuntablitas. Bagi PNS atau pejabat, azas ini adalah bagaimana terpenuhi unsur-unsur dalam pertangungjawaban keuangan, yaitu ada tiket umroh, atau biaya penginapan, ada biaya dan segala urusan yang berkaitan dengan keberangkatan 200 orang berumroh. Tetapi akuntabilitas bagi warga Banten tentu berbeda. Bagaimana para pejabat atau PNS itu menghitung dan mengalokasikan uang rakyat untuk kepentingan 200 orang yang outputnya hanya dirasakan per orangan? Lalu, bisakah menjadi jaminan bahwsa ke-200 orang yang umrohnya dibiayai dari pajak dan retribusi yang dipungut dari warga Banten itu menjadi lebih beriman, bertaqwa dan menjadi penyebar agama Islam? Jawabannya: Tak ada jaminan.

Azas kepentingan masyarakat luas. Rupanya pejaba atau PNS di Provinsi Banten menilai 200 penerima umroh merupakan kepentingan masyarakat luas, tetapi 9 juta warga Banten bukanlah kepentingan masyarakat luas. Jika kita tanya, apa hasil dari umroh bagi masyarakat luas?Jawabannya tidak ada. Karena umroh adalah kegiatan yang bersifat pribadi antara pemeluk agama Islam dengna Allah SWT. Dan, sifatnya sunah, sekali lagi sifatnya sunah, bukan wajib.

Apakah Gubernur Banten, Rt Atut Chosiyah SE tahu hal ini? Kita meyakini – secara hukum-- jawabannya tahu, karena untuk mengeluarkan uang dan menentukan dana hibah atau bansos diperlukan SK Gubernur atau peraturan gubernur tentang hal tersebut. Kedua jenis keputusan itu harus ditandatangani oleh Gubernur Banten, tidak boleh diwakilkan pada yang lain.

Pada akhirnya semua kembali kepada nurani Gubernur Banten, apakah kegiatan model ini akan dihentikan agar tidak “menyakiti” rakyat Banten, atau memang Gubernur Banten juga punya keyakinan bahwa kegiatan mengumrohkan 200 orang merupakan kegiatan untuk kepentingan masyarakat luas. (im)

Rp4 Miliar Untuk Kirim Marching Band Ke Belanda

Posted by Unknown | | Posted in ,

Serang  – Pemerintah Provinsi Banten menyiapkan dana hingga Rp4 miliar untuk mempersiapkan Marching Band Gita Surosowan dalam World Music Contest (WMC), di Kerkrade, Belanda yang akan digelar 27-28 Juli 2013 mendatang. Marching Band Gita Surosowan akan mewakili Indonesia dipentas olimpiade musik yang digelar empat tahunan tersebut.

Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum Provinsi Banten Yadi Mulyadi mengatakan, anggaran yang disiapkan untuk kegiatan tersebut mulai pelatihan, akomodasi dan transportasi ke Belanda, Pemprov Banten menyiapkan anggaran sekitar Rp4 miliar. “Anggaran yang disipakan secara keseluruhan sekitar Rp4 miliar, itu dari APBD Banten.Sampai saat ini kontribusi dari pusat belum ada, karena memang kami juga tidak mengajukan ke pusat,” ujar Yadi, Minggu (5/5/2013).

Sementara itu, Wakil Gubernur Banten Rano Karno mengatakan, Marching Band Gita Surosowan akan mengikuti olimpiade musik sedunia yang digelar empat tahunan di Belanda pada 21 hingga 28 Juli 2013. Olimpiade itu akan diikuti sekitar 21 negara diantaranya Jerman, Amerika, Jepang, Thailad dan sejumlah negara lainnya.

“Kami sedang mempersiapkan diri dengan matang karena ini akan membawa harum dan nama baik bangsa Indonesia serta khususnya Provinsi Banten di pentas dunia. Apalagi jika kita ditakdirkan menjadi juara,” kata Rano yang juga Pelindung Marching Band Guta Surosowan Provinsi Banten usai memberikan pengarahan kepada 138 peserta yang akan dikirim ke Belanda.

Dijelaskan Rano, world music contest 2013 yang akan digelar di Belanda tersebut akan dihadiri sekitar 750 ribu orang dari peserta perwakilan negara lain dan juga para pengunjung. “Tim yang akan berangkat pada 21 Juli 2013 mendatang sekitar 185 orang termasuk 138 orang diantaranya adalah peserta kontes,” terangnya.

Rano meminta kepada para peserta dan juga seluruh pendamping untuk mempersiapkan diri dengan matang, baik secara fisik dan juga mental melalui berbagai latihan. Sebab, kondisi cuaca yang berbeda antara Indonesia dan Belanda serta jarak tempuh perjalanan yang cukup lama, jangan sampai mengganggu penampilan para peserta saat pelaksanaan kontes. “Marching Band Gita Surosowan akan bersaing dengan marching band asal Amerika,” ujarnya.

Rano mengaku bangga dengan berbagai prestasi yang sudah diraih Marching  Band Gita Surosowan, karena sebelumnya marching  band ini telah merebut jura nasional atau peringkat pertama pada kejuaraan Grand Prix Marching Band tahun 2012 dan juga kejuaraan yang digelar di Malaysia pada 2010 lalu. “Berbagai prestasi serta medali telah diraih sejak 2007 lalu,” kataya.

Rano mengatakan, pekan sebelumnya sudah bertandang ke Belanda untuk melihat kondisi lokasi World Music Contest 2013. “Saya akan berangkat tanggal 18 Juli 2013, untuk menyiapkan berbagai kebutuhan para pemain yang akan pentas disana,” ujarnya.  (teguh)

Pengukuran Arah Kiblat Mesjid-Mesjid Jarak Jauh

Posted by Unknown | | Posted in ,

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah swt, karena setelah melihat sebuah informasi di salah satu blog [lupa nama blognya] akhirnya saya mencoba dan mencari tahu semua tentang hal itu. Baiklah supaya tidak penasaran, yang saya maksudkan disini adalah mengukur ketepatan arah kiblat pada sebuah mesjid yang terletak di sekitar Kampung Pancur, Desa Sukasari  Kecamatan, Tunjung Teja, Serang - Banten, yang tak lain kampung tersebut adalah tempat saya dilahirkan dan sekaligus tempat yang begitu bersejarah.

Adapaun Kisah cerita arah kiblat dipndahkan oleh Allah, silakan bisa baca disini atau disini dan disini. Sebagai referensi sumber bacaan dan sekaligus informasi tambahan bagi pembaca.

Untuk mencari masjid yang hendak kamu cari, kamu harus mengarahkan kursor mouse ke sudut kanan dan kiri pojok atas. Disana cari pengaturan model pencarian yang menurut kamu mudah untuk dicari, ada pilihan Map [berbentuk peta disertai nama tempat, tapi jika di zoom yang ada hanya ada jalan2 saja], Satellite [satelit], Hybrid [], Terrain [], dan Earth []. Tapi saran saya jika kamu sudah hafal betul letak daerah mu, yang lebih mudah untuk digunakan adalah menggunakan SATELLITE, udah gitu tinggal ditekan tombol + dan - [yang ada di pojok kiri atas]. Tapi jika masih pemula dan awam ya silakan ikuti tips/cara yang saya buat dibawah ini.

Misalkan : cara yang paling mudah mencari "Kampung Pancur" adalah sebagai berikut :
  1. Masukan/Ketik nama "Serang Banten" di kotak enter address. dan pastikan pengaturannya lokasinya Map. [bukan satelit, hybrid, terain, atau earth]
  2. Disana kamu akan menemukan nama tempat : Cipocok Jaya, Curug, Sukamenak, Petir, Seuat, dan Tundjung. Nah disamping Tundjung kamu akan menemukan nama tempat PANIIS. 
  3. Silakan kamu zoom. [cukup menekan tanda [ + ] sebanyak tiga kali] 
  4. Ganti Type peta ke Hybrid. 
  5. Kamu tinggal cocokan dengan LOKASI yang ada dibawah [nama-nama masjid] yang sudah dibuat.


Oh iya, untuk mempermudah, saya sudah buatkan kordinat mesjid-mesjid yang ada disekitar daerah terdekat [yang sudah ditandai dengan berwarna biru], silakan di cek kebenarannya [silakan klik tanda yang berwarana biru, nanti secara otomatis akan muncul namannya]. Untuk menge-cek arah kiblatnya, silakan cari dan sesuaikan dengan "mesin pencarian" yang ada di atas. SELAMAT MENCOBA...

Letak dan Nama-Nama Mesjid



Dari pengamatan saya, melalui google maps diatas. Dari ke tujuh masjid tersebut yang yang paling sedikit memiliki kemirinagnnya (sekian mili) dari garis Merah (diatas) adalah Masjid Kp. Nanggor. Kemudian Masjid Kp. Pancur, yaitu kurang ke sebelah utara sedikit, di ikuti masjid Kp. Kubang, Masjid Kp. Kupluk, Masjid Kp. Ancol dan masjid Kp. Sukasari. Sedangkan Masjid Kp. Kalong (kebablasan) lebih miring ke Utara [kurang miring ke selatan].

berikut ini hasil nya :









Yang saya tulis di atas berdasarkan pengamatan dan percobaan yang sudah saya lakukan, dan sedikitpun tidak ada unsur apapun. Wallâhu’alam

Amir Hamzah