Hak Isteri Setelah Suami Meninggal

Posted by Unknown | Rabu, 29 Januari 2014 | Posted in ,

Menjadi janda merupakan pilihan yang sangat berat bagi kebanyakan wanita. Tidak hanya beban berat bagi dirinya, termasuk bagi keluarganya. Masa-masa indah bersama suami yang telah meninggal dunia, kini tinggal kenangan yang tak mungkin lagi berulang. Terlebih ketika tidak ada lagi harapan untuk membangun keluarga baru dengan suami yang baru.shirt polo muslim.

Di sebagian suku india, beberapa wanita membakar diri bersama mayat suaminya. Bahkan ini menjadi doktrin agama Brahma yang mereka anut. Tradisi ini juga terjadi di suku Inka di Peru, kepulauan Fiji, dan beberapa suku di Cina.

Islam tidak mewajibkan apapun kepada wanita yang ditinggal mati suami, selain ihdad (menjalani masa berkabung). Dimana sang istri tidak diperkenankan untuk berdandan dan menerima lamaran nikah selama masa iddah. Batas masa iddah untuk wanita yang tidak sedang hamil adalah 4 bulan 10 hari, sementara untuk wanita hamil, batasnya sampai dia melahirkan. Setelah masa ini, sang janda boleh berdandan selama tidak keluar batas syariah, dan boleh menikah lagi.

Istri Dunia, Istri Akhirat
Adanya ikatan iman pada pasangan suami istri di dunia, akan Allah abadikan sampai kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah pertemukan mereka kembali, dan Allah jadikan mereka sebagai suami istri di surga. Dan setiap wanita, akan dikumpulkan bersama suaminya yang terakhir. Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أيما امرأة تُوفي عنها زوجها ، فتزوجت بعده ، فهي لآخر أزواجها
Wanita mana pun yang ditinggal mati suaminya, kemudian si wanita menikah lagi, maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 3248 dan dinilai sahih oleh al-Albani).

Karena itulah, para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diperbolehkan untuk dinikahi oleh lelaki yang lain, sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا
Kalian tidak boleh menyakiti hati Rasulullah dan tidak pula menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah dia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah Amat besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. Al-Ahzab: 53)

Diantara hikahnya, mereka akan menjadi istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di surga. Dan tidak ada manusia yang surganya lebih mulia dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nailah bintu al-Farafishah adalah istri Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau menjadi saksi sejarah pembunuhan Utsman yang dilakukan oleh para pemberontak. Seusai masa iddah, beliau dilamar oleh Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.

Namun Nailah menolaknya. Nailah pernah mengatakan,

إنى رأيت الحب يبلى كما يبلى الثوب ، وقد خشيت أن يبلى حزن عثمان من قلبى، والله لا قعد أحد منى مقعد عثمان أبدا
Aku merasa rasa cintaku bisa luntur sebagaimana baju yang luntur. Namun aku khawatir, kesedihanku terhadap Utsman akan luntur dari hatiku. Demi Allah, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Utsman untuk diriku selamanya.” (al-Aqdu al-Farid, 3/199).

Hujaimah bintu Hay, Ummu Darda as-Sughra pernah dilamar oleh seseorang sepeninggal Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. Namun beliau menolak dan mengatakan,

سمعت أبا الدرداء يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” المرأة لآخر أزواجها” ولست أريد بأبى الدرداء بديلا
Saya mendengar Abu Darda meriwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Wanita akan dikumpulkan bersama suami yang terakhir.’ Dan saya tidak ingin ada yang menggantikan posisi Abu Darda.” (al-Mathalib al-Aliyah, Ibn Hajar, 5/274).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa sang istri yang ditinggal mati suami, masih memiliki hak terhadap suaminya. Hak mereka tidak menjadi putus sama sekali, setelah berakhirnya masa iddah. Selama mereka tidak menikah dengan lelaki yang lain. Karena itu, Allah abadikan ikatan pernikahan mereka sampai di akhirat. Allah pertemukan mereka dan menjadi suami istri di surga. Allahu a’lam []




Kesalahan di Masyarakat dalam Memilih Imam Sholat

Posted by Unknown | Kamis, 25 Juli 2013 | Posted in

13726709481509644471
Hampir di beberapa kampung yang saya temui kebanyakan yang ditunjuk sebagai imam sholat ialah yang lebih sepuh (tua) umurnya. Padahal jika kita kembali kepada ilmu fiqih, usia itu menjadi patokan yang terakhir. Ada beberapa kriteria yang lain sebelum itu, sebagaimana disampaikan oleh Ustad Hasyim.

Sebaiknya yang pertama dituntut menjadi imam adalah yang afshah (lebih fasih) bacaannya. Makhorijul hurufnya dan ilmu tajwidnya.

Setelah itu jika sama-sama fasih maka yang dipilih ialah yang lebih wara‘ (hati-hati). Dalam artian lebih menghindari sesuatu yang subhat (meninggalkan sesuatu yang tidak jelas hukumnya, antara halal dan haram). 

Jika sama-sama wara’ maka yang dicari ialah yang pengetahuan ilmu fiqihnya lebh banyak. Jika sama-sama ahli dalam ilmu fiqihnya maka cara terakhir yang digunakan, yaitu siapa yang lebih tua umurnya. Itulah yang dipilih. Berarti sudah jelas, yang diutamakan ialah kefasihannya.

Tetapi kenyataan dan kebanyakan di masyarakat itu terbalik. Bacaannya mau belepotan, ngerti ilmu fiqih nggak, tidak menjaga diri, yag penting umurnya sudah tua. Inilah penyimpangan yang bagi saya sangat besar, jika dibiarkan dapat merusak ibadah sholat.

Saya pernah punya pengalaman. Waktu itu bulan ramadhan, saya ikut salah seorang teman dan menginap di kampungnya (namanya dirahasiakan) selama sepuluh hari. Selama itu pula saya ikut sholat berjamaah di mesjid yang diimami oleh sesepuh kampung yang bacaannya saya katakan sangat buruk (makharij al-huruf dan tajwidnya kebanyakan rusak).

Saya sudah berusaha ngobrol dengan kelurga dan kerabat, bahkan ustadz. Kata mereka sangat sulit untuk menasehati dan merubahnya. (/Zah)
 

Apresiasi Allah Bagi Yang Menahan Diri

Posted by Unknown | | Posted in

Dalam sebuah ayat Al-Qur'an (QS. al-Baqarah [02] : 249) Allah memeberikan sebuah kisah yang dapat kita jadikan pelajaran. Dalam ayat tersebut mengisahkan Thalut dengan tentaranya yang akan menghadapi jalut. Pasukan Thalut dilarang meminum air, kecuali satu ciduk saja. Bagi siapa yang melanggar maka ia adalah bagian dari mereka, tetapi siapa yang mengikuti perintahnya maka ia adalah bagian darinya.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.

Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". 

Hikmah
  • Inilah yang saat ini ada dan kita hadapi. Baik sadar ataupun tidak hal ini memang demikian adanya. Seberapa sering kita melakukan perbuatan-perbuatan yang sebetulnya menyimpang dari jalan Allah...

  • Bagi orang yang beriman, perkara dunia bukanlah tujuan utama. Sebab janji Allah, bagi mereka yang mencari ridhoNya disediakan sebaik-baiknya tempat (syurga)

  • Orang yang beriman selalu mengunakan cara pandang yang amat jauh kedepan, tidak dangkal. "Dengan meminum satu cidukan air, bagi mereka sduah sangat cukup..."

  • Bagi siapa yang merasa yakin dengan Allah maka jumlah musuh yang banyak pun tak ada yang mustahil baginya. Karena ia punya Allah swt.
Hubungan Dengan Ibadah Puasa
Sebuah penelitian menunjukan  bahwa ada hubungan antara orang yang mempu menahan diri dengan yang sebaliknya. Orang yang terbiasa menahan ternyata memiliki IQ yang lebih tinggi, dan mereka juga dimasyarakat memiliki peranan yang cukup baik.

So... Bagi siapapun yang menahan diri dari keburukan ketika ia berpuasa, maka Allah akan memberikan sebuah kemenangan. Sebagaimana Thalut menjanjikan kemenangan bagi pasukannya.

Dengan menahan diri dari sebuah keburukan tentu akan melahirkan pribadi yang baik.  Secara tidak langsung ia telah menjalankan ibadah spiritual maupun secara sosial. Bagi siap yang mampu menjalaninya selama satu bulan penuh, janji Allah tak akan pernah lepas untuknya.[/zah]

Inilah Tiga Tempat Syetan Bersemayam

Posted by Unknown | | Posted in

Terkadang kita tak pernah sadar dan cenderung tidak mau tahu, mungkin sewaktu kita marah atau emosi yang lebih di ikuti itu perasaan dan perasaan. Sebenarnya inilah salah satu cara setan masuk dalam diri manusia untuk menguasai tingkah lakunya dan membuat manusia tersebut menjadi lalai dan lari dari hidayah Allah swt.

Saya pernah mendengarkan sedikit uraian dari sahabat sewaktu berdiskusi singkat. Dia bercerita sedikit, tentang Iblis di masa Nabi Musa as. Suatu ketikan Musa memintakan ampun kepada Allah untuk Iblis, tetapi karena sikap keras kepalanyalah Allah tetep tidak memafkannya. Akhirnya, Iblis memberikan imbalan kepada Musa atas usahanya tersebut. Iblis memberitahukan sedikit tentang keberadaan mereka. 

Pertama Iblis mengatakan "ketika orang yang sedang marah di situlah saya berada." Kedua,ketika orang yang sedang mabuk di situlah saya berada." Dan ketiga, yang paling menarik dan banyak dilakukan oleh orang-orang. Baik disengaja ataupun tidak, yaitu “ketika manusia itu berduaan lain jenis dan bukan mahromnya di situlah saya berada."

Sekarang kita sudah tahu keberadaan mereka. Saat ini tinggal bagaimana kita mampu mengalahkannya. Al-Quran sudah sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa syetan itu merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Yuk kita perangi dengan sekuat tenaga dan ilmu agama. Mesikpun tidak tampak oleh mata, tetapi kita sudah tahu pos-pos mereka.

Oleh karenanya mari bersama sama jaga hati dan pergunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan mudah marah, karena setan akan senang dengan orang pemarah. Jangan pernah meminum-minuman keras, sebab jika sudah mabuk apa yang kita lakukan tentu tidak akan pernah tahu. Bahkan dalam sebuah kisah, bahwa mabuk merupakan sumber malapetaka.

Dan yang terakhir, jangan pernah berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis). Sebab orang yang ketiganya ialah syetan. Jika sudah ada syetan maka bisikan-bisikan yang menjerumuskan akan datang. Tak sedikit orang yang menjadi korbannya. Apakah kita mau jadi korban yang selanjutnya?? Semoga bermanfaat []

Menjaga Kemaluan

Posted by Unknown | Jumat, 24 Mei 2013 | Posted in

Sepekan ini, masyarakat Jabodetabek dihebohkan dengan pemberitaan dipotongnya (maaf) alat kelamin seorang pemuda di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Pelakunya merupakan salah seorang santri pondok pesantren di kawasan utara Tangerang.

Hasil penelusuran polisi, penyebab utama lantaran korban memaksa pelaku untuk berbuat intim. Membaca berita itu, saya sedikit terhenyak, mengapa teganya pemuda itu memaksa pelaku untuk berbuat zina yang benar-benar dilarang agama.

Patut kita akui, kasus di atas terjadi lantaran saat ini zina sudah dianggap hal biasa dan lumrah. Banyak di antara umat Islam yang telah melupakan kewajiban untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Alhasil mereka terjerumus dalam lembah perbuatan zina.

Padahal, Allah memerintahkan Nabi-Nya dan juga orang-orang yang beriman untuk menjaga pandangan dan kemaluan mereka. Dia uga memberitahukan kepada mereka bahwa Dia senantiasa pengetahui dan memperhatikan segala yang mereka kerjakan.

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mukmin: 19).

Pada mulanya, perintah tersebut tertuju pada pandangan. Lalu, Allah perintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan sebelum menjaga kemaluannya karena semua yang terjadi itu bermula dari pandangan mata, laksana api besar bermula dari lilitan kecil. Jadi, pada awalnya dimulai dari pandangan kemudian terlintas dalam pikiran lalu menjadi langkah dan selanjutnya terjadi dosa ataupun kesalahan.

Maka dari itu, dikatakan bahwa barang siapa yang mampu menjaga pandangan, pikiran, ucapan, dan tindakan, berarti ia telah menjaga agamanya. Karena itu, Islam menekankan kepada umatnya untuk selalu menjaga kemaluannya agar terhindar dari perbuatan zina.

“Dan, orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya, mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang sebaliknya, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Ma’arij [70] : 29-31)”

Kerusakan akibat zina termasuk dampak paling besar karena dapat merusak kemaslahatan mata rantai keturunan, kehormatan alat vital, serta mendatangkan permusuhan dan kebencian yang lebih besar di kalangan manusia, baik dari pihak istri, sahabat, anak perempuan, maupun ibunya. Besarnya dosa zina berada tepat setelah dosa pembunuhan.

Allah SWT menegaskan haramnya berbuat zina dalam firman-Nya: “Dan, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (balasan) dosa(nya).

(Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dan dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh. Kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Furqan [25] : 68 – 70).

Allah SWT menyertakan zina dengan syirik dan pembunuhan. Dia juga menjadikan balasan atasnya adalah hidup kekal di nerat dalam siksa yang berlipat ganda jika pelakunya enggan bertauba beriman, dan beramal shalih.

Allah SWT berfirman: "Dan, janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya, zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.( Al-Israa’ [17] : 32)”
Allah menyatakan kekejian zina merupakan keburukan yang demikian keji sehingga diterima oleh akal semua makhluk.

Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Ari Amr bin Maimun al-Audy. Dalam riwayat itu ditulis: "Di masa jahiliyyah, aku melihat kera yang berzina dengan kera yang lain. Lalu, berkumpullah para kera dan melempari keduanya dengan batu hingga mati."

Allah SWT. juga menerangkan bahwa ujung dari perbuatan ini adalah berupa jalan yang buruk karena merupakan jalan kerusakan, kebinasaan, kefakiran di dunia, serta siksa, kehinaan, an bencana di akhirat. Melalui tulisan ini, saya mengajak agar selalu menjaga karunia pandangan, menjaga kemaluan sehingga derajat kita selalu diangkat dan tidak direndahkan di mata manusia terlebih Allah SWT.

Keutamaan Bulan Rajab

Posted by Unknown | Kamis, 23 Mei 2013 | Posted in ,

Keutamaan Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih.

Bulan Rajab adalah Bulan Haram
Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.
Apa Maksud Bulan Haram?
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:
  1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214. Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215.

Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya. Lihat bahasan Muslim.Or.Id sebelumnya: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213).
Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)
Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali.

Semoga bulan Rajab menjadi ladang bagi kita untuk beramal sholih.
sumeber tulisan DISINI

11 Tanda Cinta Nabi Muhamad SAW

Posted by Unknown | Rabu, 22 Mei 2013 | Posted in ,

Seseorang yang mengklaim bahwa dia mencintai seseorang akan lebih memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka dia tidak akan bertindak sesuai yang dicintanya dan artinya cintanya juga tidak akan tulus. Tanda-tanda berikut ini akan menjadi jelas pada mereka yang benar-benar mencintai Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam,

Pertama: Tanda pertama cinta kepada Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah bahwa dia akan mengikuti contoh-contohnya, menerapkan cara Nabi saw dalam kata-kata, perbuatan, ketaatan kepada perintah-Nya, menghindari apa pun yang dilarang dan mengadopsi sikap Nabi saw pada saat diberi kemudahan, sukacita, kesulitan, dan penderitaan. Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) dan Allah akan mencintaimu.” [Al-Imran: 31]

Kedua: Tanda kedua adalah bahwa dia akan menyingkirkan keinginan sendiri dan nafsunya dengan mengikuti hukum yang didirikan dan didorong oleh Nabi SallAllah alaihi wa Sallam. Allah berfirman, “Kepada orang-orang sebelum mereka yang telah membuat tempat tinggal mereka di tempat tinggal (Kota Madinah), dan karena keimanannya mereka mengasihi orang yang telah beremigrasi ketempat mereka, mereka tidak menemukan irihati dan dengki dalam dada mereka untuk apa yang telah diberikan dan lebih memilih mereka atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri memiliki kebutuhan. ” [Al Hasyr: 9]

Ketiga: Tanda ketiga adalah bahwa kemarahan seseorang karena orang lain hanya demi mencari keridhaan Allah. Anas, putra Malik diberitahu  oleh Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, “Anakku, jika Anda dapat menahan diri dari dendam di hati Anda dari pagi hingga sore, kemudian melakukannya.” Dia kemudian menambahkan, “Anakku, yang merupakan bagian dari jalan kenabian bahwa barang siapa yang menghidupkan kembali cara saya dan mengasihi Aku, dan barangsiapa mencintaiku akan bersama dengan saya di surga.” [Sunan Tirmidh, Kitab al-Ilm, Vol 4, Halaman 151]

Keempat: Tanda keempat adalah bahwa seseorang yang mencintai selalu menyebutkan nama Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, dalam kelimpahan – siapa mencintai sesuatu, terus-menerus pada lidahnya bersalawat kepada Nabi saw. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 32]

Kelima: Tanda kelima adalah kerinduan untuk bertemu Nabi SallAllahu Alaihi wa Sallam. Setiap kekasih rindu untuk bersama mereka yang tercinta. Ketika suku Asy’ariyah mendekati Madinah, mereka mendengar nyanyian, “Besok, kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, Muhammad saw dan para sahabatnya!” [Dalail an-Nabuwwah lil Baihaqi, Jilid 5, Halaman 351]

Keenam: Tanda keenam adalah bahwa setiap mengingat Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, seseorang yang mencintainya akan ditemukan memuji dan menghormati setiap kali namanya disebutkan dan kemudian menampilkan kerendahan hatinya dan lebih merendahkan dirinya sendiri ketika ia mendengar namanya. Kami diberitahu oleh Isaac at-Tujibi bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, setiap kali para sahabat mendengar namanya disebutkan mereka menjadi lebih rendah hati, kulit mereka gemetar dan mereka menangis karena cinta. Adapun para pengikut lain dari Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, beberapa sahabat mengalami rasa cinta yang luar biasa sehingga meneriakkan salam kerinduan untuknya, sedangkan yang lain melakukannya karena rasa hormat dan penghargaan pada Rasulullah sawi. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 33]

Ketujuh: Tanda ketujuh adalah ungkapan kasih yang diungkapkan untuk Nabi Muhammad SallAllahu alaihi wa Sallam, dan para ahlul bayt (keturunan Nabi saw) dan sahabatnya – para Muhajirin dan bani Ansar sama besarnya demi kehormatan Nabi saw. Seseorang dengan tanda ini akan ditemukan memusuhi orang-orang yang membenci mereka.

Kedelapan: Tanda kedelapan, kebencian terhadap siapa saja yang membenci Allah dan Rasul-Nya. yaitu dengan membenci orang-orang yang menunjukkan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Orang beriman memiliki tanda ini menghindari semua yang menentang cara kenabian, dan bertentangan dengan orang-orang yang memperkenalkan inovasi dalam cara kenabian (yang bertentangan dengan semangat Islam) dan menemukan hukum yang memberatkan. Allah berkata, “Anda akan menemukan tidak ada umat yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir yang mencintai siapapun yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” [Al Mujadilah: 22]

Kesembilan: Tanda kesembilan ditemukan pada mereka yang mencintai Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi saw, dimana mereka dibimbing. Ketika ditanya tentang Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, Sayidah Aisyah, ra dia, berkata, “karakter Nabi adalah Al-Qur’an.” Bagian dari cinta Al-Qur’an adalah mendengarkan bacaan, bertindak sesuai dengan itu, pemahaman itu, menjaga dalam batas-batas dan cinta cara Nabi Muhammad. [Al Shifa bi Ta'reefi Huqooq al-Mustafa, Vol 2, Page 35]

Kesepuluh: Tanda kesepuluh cinta untuk Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, adalah untuk mengasihani umatnya dengan menasihati mereka dengan baik, berjuang untuk kemajuanmereka dan menghapus segala sesuatu yang berbahaya dari jalan mereka dan dalam cara yang sama bahwa Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata “kasih sayanglah kepada orang yang beriman.” [Al-Taubah: 128]

Kesebelas: Tanda kesebelas kasih yang sempurna ditemukan dalam membatasi siapa dirinya melalui penyangkalan diri, lebih memilih kemiskinan dari kenikmatan atraksi dunia. Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, berkata Abu Sa’id Al Khudri, “Kemiskinan akan datang kepada Anda yang mencintai saya, mengalir lebih cepat daripada banjir dari puncak gunung ke dasarnya.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]

Seorang pria datang kepada Nabi Alaihi wa Aalihi SallAllaho wa Sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku mencintaimu.” Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam, memperingatkan, “Hati-hati dari apa yang Anda katakan.”

Pria itu mengulangi cintanya sampai tiga kali, dimana Nabi SallAllahu alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Jikalau kamu mengasihi ku maka persiapkan diri mu dengan cepat untuk kemiskinan.” [Sunan Tirmidzi, Kitab az-Zuhd, Vol 4, Halaman 7]

Ya ALLAH SWT! Kami memohon kepadaMU untuk mengisi hati kita dengan Kasih yang benar dan besar dari sifat Karim yang terkasih, Habibullah. Kita tetap hidup pada Sunnah-nya dan memberkati kita dengan kematian pada Iman di Kota terkasih Nabi Terkasih saw dan kuburkan kami dengan Ahl al-Baqi ‘asy-Syarif. Allahu'alam []