Inilah Kegiatan Kampung Kami

Posted by Unknown | Selasa, 25 Juni 2013 | Posted in , , , , , , ,

Setiap tahun, di kampung kami ada kegiatan rutin. Kegiatan itu diantaranya adalah peringatan Isra Miraj Muhamad SAW (biasanya malam hari). Adapun untuk pagi harinya yaitu acara iksaman atau istipalan (ini istilah yang sering kami gunakan). Acara ini adalah acara terakhir sekolah madrasah ibtidaiyah sebelum liburan menjelang ramadhan. Biasanya pelaksanaanya digelar lima belas hari sebelum puasa ramadhan dimulai.

Tak hanya kegiatan tahunan, di kampung kami juga ada kegiatan bulanan. Setiap bulan tentu berbeda, karena menyesuaikan bulannya, dan bulan yang digunakan adalah bulan umat islam (hijriah). Ada rejep, rewah, puasa, mulud, dan seterusnya. Dari acara-acara tersebut sebetulnya ada kesamaan, yaitu membawa nasi dan lauk pauk serta kue-kue untuk dibawa ke mesjid, isilah yang kami gunakan adalah ngariung artinya berkumpul sambil membuat lingkaran setelah itu dibacakan do’a dan setelah selesai nasi tersebut dibagikan kepada peserta ngariung.

Istilah ngariung kami gunakan tidak hanya dalam acara bulanan. Tetapi juga dalam acara mingguan. Di kampung kami sudah mendarah daging dan sudah turun menurun kegiatan pengajian mingguan, yaitu kamis malam dan sabtu pagi. Kagiatan ini rutin, tempatnya selalu berputar. Misalnya kamis malam di mesjid kampung kami, dan sabtu paginya di mesjid kampung sebelah. Pada putaran yang kesekian kalinya kampung kami juga mengadakan pengajian pada sabtu pagi.

Kegiatan ini sebetulnya sangat sederhana. Tiap-tiap rumah dibebankan untuk membuat kue dan memasak nasi (bagi yang punya, lauknya bebas apa saja kuenya juga sama dan intinnya tidak memberatkan). Masakan dari tiap-tiap rumah dikumpulkan menjadi satu, dan nantinya ketika acara sudah selesai maka dibagikan kepada yang hadir. Peserta yang hadir biasanya dari kampung-kampung yang terdekat (sudah menjadi grup dari kegiatan mingguan ini)

Inilah kegiatan yang sering/rutin kampung kami laksanakan. Ada nilai yang begitu besar dari kegiatan ini yang dapat kami ambil. Pertama, menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan dalam diri kami, terutama dalam mengangkat nama kampung. Kedua, sedekah yang begitu besar dan bermanfaat. Dengan mebawa masakan dan kue ke mesjid untuk peserta ngariung merupakan pahala yang begitu besar. Ketiga, bersilaturahmi dengan tetanga kampung yang lainnya, disanalah saling mengenal untuk lebih dekat. Jadi, kita tahu mereka dan mereka juga tahu kita.

Harta, Tahta dan Wanita

Posted by Unknown | Rabu, 22 Mei 2013 | Posted in


Seperti biasa, jatuhnya kehormatan manusia yang mengklaim diri sebagai makhluk paling mulia justru tidak jauh dari kasus klasik yang mencakup 3 hal : harta, tahta, wanita. Kemuliaan manusia bukan diukur karena punya akal budi. Tetap saja ukuran kemuliaan adalah perbuatan kita sendiri,  terutama perbuatan kepada sesama.

Akal budi dapat membawa manusia kepada kemuliaan hidup di dunia maupun di kelak setelah ajal.  Sebaliknya oleh akal budi pula manusia bisa menjadi makhluk paling hina di planet bumi ini. Akal budi bisa merencanakan memanifestasikan nafsu/hawa negatif, sebaliknya bisa pula mendukung artikulasi hawa positif.  

Untuk membangun sikap eling dan waspada, terutama difokuskan pada 3 hal yang paling krusial yakni : harta, tahta, wanita. Semua itu bagaikan anugrah “permata” dunia, namun bila kita tidak hati-hati serta eling dan waspada akan menjadi salah kelola dan berubah menjadi malapetaka bagi kehidupan manusia. Ketiganya dapat menjadi anugrah madune jagad, dengan syarat bila kita mampu mengelola dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya bila gagal mengelola dengan baik  dan cara yang  tepat akan menjadi malapetaka paling dahsyat di muka bumi.

Tahta bisa membuat seseorang gila, membunuh, menghancurkan. Ratusan caleg gagal lalu mengalami stress, gila, bunuh diri, terlibat kasus uang panas, semua karena demi mengejar kekuasaan dan uang. Yang berhasil menjadi wakil rakyat, banyak yang singgah di “Hotel” Prodeo gara-gara harta. Banyak pula pemimpin negara yang jatuh gara-gara masalah skandal seks. Banyak pengalaman bisa dijadikan pelajaran berharga, namun nafsu manusia selamanya tak pernah kunjung padam. Latihan mengendalikan nafsu negatif, belajar bersabar, belajar ikhlas adalah mata kuliah manusia yang tak pernah usai sepanjang ia masih dibalut raga.

Per-EMPU-an

Posted by Unknown | | Posted in

Halaman ini khusus saya persembahkan kepada seluruh pemerhati gender, kepada seluruh pembaca yang budiman, untuk berbicara, memberikan sumbang sih, membahas, berdiskusi seputar falsafah hidup, pandangan, persepsi, terhadap kaum perempuan. Tentu saja hal ini akan membawa kita ke dalam khasanah ideologi gender –feminisme– di mana ideologi feminisme bermula dari adanya PENILAIAN yang dilakukan oleh (terutama) otoritas/kekuasaan/dominasi kaum laki-laki (maskulin) terhadap kaum perempuan.

Pada gilirannya penilaian tersebut mengkonstruksi SISTEM NILAI, di mana di dalamnya terdapat cara pandang (mind set) masyarakat terhadap kaum perempuan. Sistem nilai yang telah mengakar ke dalam tatanan masyarakat, mengkristal menjadi sistem sosial yang berlaku menjadi pedoman hidup, yang “dibakukan” ke dalam norma sosial, bahkan seringkali norma sosial tentang feminisme dijustifikasi dan dilegitimasi melalui norma hukum (hukum positif).

Celakanya, ideologi feminisme, terkonstruksi bukan melalui mekanisme sosial yang bersifat OBYEKTIF, alias tidak berlagsung apa adanya secara alamiah. Sebaliknya ideologi feminisme lebih merupakan PRODUK dari DOMINASI MASKULIN. Produk yang bersumber dari kekuasaan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Bahkan seringkali dalam ranah spiritual, kaum perempuan tetap saja dipandang remeh atau prioritas kedua setelah kaum laki-laki.

Dengan kata lain perempun sekedar berperan sebagai pelengkap penderita. Jika kita mau jujur mengakui, isi kitab suci pun memberikan kesan seolah tuhan itu berjenis kelamin laki-laki. Lebih parah lagi, pada akhirnya tak sedikit dari kaum perempuan sendiri pun ikut-ikutan memberikan penegasan dominasi maskulin, melalui berbagai stigma yang dilekatkan pada dirinya sendiri.

Walau begitu tidak seluruh sistem sosial demikian adanya, terutama di dalam tatanan sosial masyarakat modern, masyarakat dengan tingkat kemakmuran yang tinggi seperti negara-negara di belahan Skandinavia, Eropa Barat, beberapa wilayah Amerika Serikat, Latin. Namun terasa ideologi gender yang cenderung berat sebelah, menampakkan dominasi kaum laki-laki (patriarchard dan patrilineal) terjadi di negara-negara benua Asia meliputi Timur Tengah, China, Indonesia, India, Malaysia.

Sebagai bukti bahwa ideologi gender yang bersifat berat sebelah, tidak adil, tidak seimbang,  telah sedemikian dalam mengkonstruksi pola pikir masyarakat dunia, yakni dirasukinya isi kitab suci dengan dominasi nilai-nilai maskulin. Sementara itu nilai feminin hanya menjadi obyek penderita saja, sebagai subordinat dari otoritas konsep tuhan yang cenderung maskulinisme. Sehingga membuat imajinasi kita sulit sekali membayangkan tuhan sebagai figur perempuan, oleh karena doktrin agama yang telah dijejalkan bertubi-tubi sejak kecil, baik melalui telinga, mata, maupun hidung.

Saya berandai-andai, jika tuhan adalah perempuan, sepertinya dunia ini akan lebih tenteram dan damai. Tak ada lagi perang antar agama. Karena kaum perempuan, kenyataannya tidak memiliki nafsu mendominasi, mengalahkan, menghancurkan, yang berujung pada peperangan  sebesar yang dimiliki kaum laki-laki.

Pada kenyataannya, manusia telah membuat definisi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian menampakkan kadar subyektif dan berat sebelah dalam menilai. Diakui atau tidak, munculnya stigma (“stempel” negatif) terhadap kaum perempuan, hanya berdasar penilaian pada sisi minus-nya saja, bukan pada sisi plus dan esensinya.

EMPU

Coba sekarang kita buka lagi lembaran lama khasanah spiritual nusantara. Di mana kaum wanita disebut sebagai PER-EMPU-AN. Empu adalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki daya linuwih, waskita, berilmu tinggi, ahli sastra, menguasahi ilmu kasampurnaning urip, pembuat suatu karya agung.

Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara ini memberikan istilah per-EMPU-an untuk kaum wanita, tidak hanya sekedar menyebutnya sesuai jenis kemaluannya saja, tetapi lebih mulia karena menyebutnya melalui aspek esensinya yang lebih manusiawi, dan sekaligus sebagai bentuk apresiasi rasa penghormatan tinggi terhadap kaum wanita.

Ya…per-empu-an. Merupakan satu-satunya sebutan paling tepat dan hebat di muka bumi untuk menyebut kaum wanita.

Kisah wayang mistis, jika berulah saat menonton bisa kualat

Posted by Unknown | | Posted in

Nama Wayang Gandrung bagi sebagian orang di Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain hanya ditampilkan di Bulan Suro (Muharram) dan bagi mereka yang punya ujar (nadzar), wayang kayu ini terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri sekitar abad 17 lalu.

Bahkan tentang keunikan wayang ini, Jero Wacik saat masih menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata memberikan penghargaan khusus kepada Mbah Kandar sang dalang, sebagai maestro seni tradisi.

"Hati-hati lho saat menyaksikan Wayang Gandrung, sampeyan bisa kualat jika macem-macem saat wayang digelar, lebih baik diam saja. Banyak yang sudah kejadian kuwalat akibat menyepelekannya," pesan Lamidi (60) ahli waris Wayang Gandrung pada salah seorang penonton yang menyaksikan tanggapan Wayang Gandrung oleh orang Kalimantan yang digelar di rumah sang pemilik.

Mungkin itulah gambaran mistis yang selalu disampaikan oleh orang yang menjadi pemerhati Wayang Gandrung kepada siapa saja yang baru kali pertama menyaksikan. Selain mistis, Wayang Gandrung ini juga unik.

Beberapa keunikan berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya. Antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono. Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.

"Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spiritual dari Surakarta yang sedang melakukan topo (bertapa) di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh," tutur Lamidi.

Jika ingin pentas di lokasi yang susah dijangkau, semua peralatan mulai wayang, gong, rebab, kendang, gender, harus dipikul atau diangkut dengan jalan kaki. Pilihan dengan jalan kaki ini lantaran pernah pada suatu ketika peralatan pentas pagelaran wayang diangkut dengan gerobak, gerobaknya tidak bisa jalan. Demikian pula ketika diangkut mobil, mobil itupun mogok.

Gambaran proses mistis tidak hanya berhenti di situ, saat prosesi mungel (pementasan) diawali dengan dengan ritual slametan di awal dan akhir pertunjukan serta tindakan-tindakan magis terhadap Wayang Mbah (sebutan lain Wayang Gandrung) dengan kelengkapan mistiknya.

Setelah proses dilalui, dilanjutkan dengan persiapan artistik yakni meliputi penataan fisik peralatan pentas meliputi gawangan, gamelan, blencong dan wayang. Gawangan merupakan peralatan untuk menyimping wayang (menata). Sedangkan kelengkapannya adalah instrumen gamelan dalam bentuk sederhana yakni meliputi kendhang, gambang, rebab, kethuk, kenong dan kempul (gong suwukan) yang ditempatkan melingkar di antara dalang dan kotak wayang.

Jika diperhatikan dengan seksama instrumen yang mengiringi pagelaran Wayang Gandrung tampak tua, unik dan bentuknya menimbulkan kesan magis. Bahkan ketika proses penataan instrumen para pengrawit tampak berhati-hati tanpa suara berisik sehingga menimbulkan suasana khusuk dan wingit. Penonton terbius oleh situasi emosional tersebut, belum lagi ditambah aroma dupa yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Merdeka

Kolom Budaya Emha Ainun Najib

Posted by Unknown | Senin, 20 Mei 2013 | Posted in ,

ORANG yang gumunan sering mengatakan, satu orang Jepang kualitas dan tenaganya sama dengan 5 orang Indonesia. Sementara satu orang Korea sama dengan 3 orang Jepang. Jadi 15 orang Indonesia baru bisa menandingi satu orang Korea. Yang dibandingkan adalah stamina dan etos kerjanya, keuletan dan kerajinannya, kadar profesionalitas dan manajerialnya.

Tentu itu berangkat dari kenyataan industri dan perekonomian Korea yang semakin menguasai dunia. Padahal negaranya kecil, tak punya kekayaan alam, laki-lakinya jarang yang ganteng dan perempuannya tak ada yang mampu menandingi kecantikan artis-artis kita.

Memang sesudah sampai awal tahun 80-an Korsel kacau kepribadian kebangsaannya, sesudah ditandangi oleh pemerintahan militer yang bersikap sangat memacu kerja keras rakyatnya, yang menempelengi koruptor dan para pemalas. Akhirnya bangkitlah bangsa Korea, dan sekarang langit bumi mengaguminya.

Tetapi kalau kesimpulan itu mengandung tuduhan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pemalas, sangat suka mencuri, tak mau jalan kecuali jalan pintas, main bola sambil duduk tapi ingin menang 5-0 dan kalau kemasukan gol marah-marah – itu salah besar!

Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, tidak membutuhkan keuletan, tidak mau ngoyo, cukup ikut sidang-sidang kemudian bisa bikin supermarket, dll. Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita, sehingga kita tidak membutuhkan pemerintahan yang baik.

Demi membantah pendapat di atas, saya nekat terbang ke Korea. Mohon maaf minggu kemarin saya absen menulis karena itu. Tapi karena di negeri ginseng itu saya tidak tahu jalan, maka 12 hari baru bisa pulang kembali ke tanah air. Apalagi orang Korea sangat benci kepada Amerika Serikat, sehingga mereka sangat gengsi untuk memakai bahasa Inggris. Jadi semua informasi, petunjuk-petunjuk di jalan dan di mana saja hampir 99% memakai bahasa dan tulisan Korea.

Dulu mereka benci Jepang karena sebagaimana kita Indonesia, mereka juga dijajah Jepang, rakyatnya diperbudak, kerajaannya dibakar habis – sampai akhirnya di kemudian hari mereka mengimpor kayu dari Kalimantan untuk bikin bangunan kraton yang dimirip-miripkan dengan aslinya.

Korea merdeka dari Jepang dua hari sebelum kita, yakni 15 Agustus 1945. Sekarang di zaman modern mereka punya sasaran kebencian yang lebih besar, yaitu Amerika Serikat – meskipun tentu saja hati rakyat mereka tidak tercermin oleh sikap pemerintah mereka. Namanya juga pemerintah, tentu agak aneh kalau sepak terjangnya mirip dengan kelakuan rakyatnya.

Saya jadi enthung thilang-thileng di Encheon, Seoul, Busan, sampai ke pinggiran Suwon, Ansan dll. Mana gedung-gedungnya tinggi-tinggi amat. Belum lagi kereta bawah tanahnya silang sengkarut berlapis-lapis mengiris-iris bertingkat-tingkat ke bawah permukaan bumi. Keluar dari subway saja saya pasti bingung, apalagi setiap subway di bawah tanah itu ada lapisan-lapisan pasar yang masing-masing se-kecamatan luasnya. Huruf latin tak ada 5% jumlahnya.

Lebih celaka lagi karena kebanyakan orang Korea tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara kemampuan bahasa saya juga sangat awam. Kalau ke Mesir, Arab, Jordan, Syria atau Israel, saya selalu mengaku kepada orang-orang di sana bahwa saya lebih mampu berbahasa Inggris dibanding bahasa Arab.

Sementara kalau saya ke London, Ann Arbor, atau ke Perth, saya selalu memamerkan bahwa memang bahasa Inggris saya sangat buruk – tapi kan bahasa Arab saya sangat OK.

Padahal orang Korea sangat jarang tidur. Jam 11 malam saya ketemu anak-anak SMP pulang sekolah. Jam 1 dinihari mahasiswa-mahasiswi pulang kuliah. Mulai jam 2 pagi Pasar Dong Daimun, Nam Daimun atau mall Doota justru sedang ramai-ramainya. Karena kita negara sejahtera maka Jakarta macet sore-sore kita sudah cemas, padahal di Seoul jam 3 pagi di sana – sini traffic jam.

Begitu banyak orang, tapi saya tak bisa omong apa-apa. Ada satu dua kata Korea saya tahu, tapi hilang maknanya karena setiap kata ditambah “see” atau “ee”. Sampai akhirnya saya ngedumel sendiri dan menyanyikan lagu Indonesia berjudul “Asek”. Bunyinya: “Asekuntum mawar meraaah, o o o….”

Alhasil saya kebingungan. Tak tahu utara selatan. Karena di luar Indonesia orang ngertinya kanan kiri depan belakang atas bawah. Barat timur sudah lenyap. Karena Tuhan sendiri berfirman bahwa la syarqiyyah wa la ghorbiyyah.. Tak timur, tak barat.

Untung saya ditolong oleh seorang direktur utama sebuah perusahaan pembuat alat-alat Security System dan software komputer, terutama Internet Multimedia Phone.

Sebagai orang udik saya terbengong-bengong di tepi jalan, sampai akhirnya dihampiri oleh beliaunya itu. Seorang Sajang, alias juragan perusahaan besar – meskipun tak sebesar Samsung, SK, LG atau Honde (Hyundai) – yang barusan pimpinannya bunuh diri terjun dari gedung tinggi gara-gara rahasia keuangan ekstra perusahaannya yang terkait dengan Korea Utara.

Tapi Pak Sajang ini kelakuannya sungguh aneh. Saya didatangi, dikasih rokok, diajak makan, bahkan dia membawa wajan sendiri untuk keperluan penggorengan makan kami. Saya dikursus bagaimana menggunakan sumpit. Kemudian beliau mengajak saya keliling melihat-lihat kantor-kantor dan pabriknya. Saya dibikin terkagum-kagum dipameri kunci atau gembok pintu yang detektor pembukanya menggunakan sidik jari. Kalau sidik jari kita belum terdaftar, nggak bisa buka pintu. Kemudian bahkan ada gembok yang berdasarkan sinar mata kita. Meskipun nama saya Ainun, artinya mata – tetap saja pintu itu tak bergeming meskipun saya pelototi habis-habisan sampai mengerahkan ilmu kebatinan Kaliwungu, Banten, Tulungagung dll.

Mohon maaf ruangan untuk tulisan ini sudah habis. Minggu depan saya sambung dari Malaysia, karena Pak Sajang itu menyuruh saya ke KL tgl 17 lusa. (18)

Budaya Literasi Bagi Semua

Posted by Unknown | | Posted in ,

Andai mau jujur, budaya literasi telah dimulai pada ribuan tahun yang lalu. Di mulai pada zaman Mesir Kuno, Babilonia, Dinasti China, Yunani Kuno, dan gaung  revolusinya ideologi dari Jazirah Arabia. Yakni, saat Rosulullah memperoleh ajaran religiositas pertama dari Allah SWT, untuk “membaca.” Hampir satu abad kemudian diperkuat dengan revolusi literasi teknologi dengan hadirnya mesin cetak Guitenberg

Dalam pemahaman ideologis ini seorang teman dengan sangat indah mendeskripsikan hasil renungannya. Entah sudah berapa ratus kali saya membaca ayat pertama yang diturunkan Tuhan kepada Rosul yang amat disayang-Nya. Dan entah sudah berapa kali terhenyak dan merenung. Zaman di saat orang masih berkonsentrasi bagaimana cara mencari makan. Zaman saat bukit batu masih tampil sebagaimana adanya. Zaman ketika terik matahari masih terasa seperti membakar kulit dengan sedikitnya naungan. Zaman pada saat setiap kabilah mempertahankan diri dan keluarga dengan darah. Tiba-tiba ada ajaran yang mengajak untuk “membaca”. Ini berarti sebuah lompatan budaya yang luar biasa.

Tentu keterhenyakan ini tidak hanya sampai di situ. Perintah membaca tentu bukan sekadar perintah “pemanis bibir”. Maka, jika seseorang disuruh membaca berarti tentu harus ada “bahan yang akan dibaca.” Bahan yang akan dibaca tidak mungkin terwujud, jika tidak ada yang “menulis.” Nah, dengan demikian  seruan penciptaan budaya membaca yang difirmankan Tuhan, akan selalu berdampingan dengan penciptaan seruan budaya menulis. Keduanya merupakan oposisi binner, perlawanan yang saling melengkapi. Oleh karena Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia (tanpa pandang bulu) maka seruan untuk memiliki budaya literasi pun ditujukan bagi semua.

Berabad kemudian seruan ini terbukti dengan beragam penemuan, yang bermula dari budaya literasi ini. Hidup manusia makin “terenakkan”. Bahkan terlenakan dengan segala fasilitas yang didapat.

Pada tataran ideologis pun akhirnya budaya literasi ini sedikit demi sedikit terkikis dari para umat-awam. Umat kembali berposisi sebagai konsumen dari beragam hasil budaya literasi yang dicipta orang lain, dari para pemimpinnya, dari para ilmuwan. Maka, jadilah budaya literasi ini diklaim seakan hanya menjadi wilayah kerja para pemimpin dan ilmuwan tersebut. Umat-awam pun  kembali jumud (malas berpikir) dan taqlid (menjadi pengekor). Nilai-nilai kritis seperti yang ditunjukkan pada zaman Rosulullah dan para sahabat mulai sirna.

Sebenarnya hegemoni para pemimpin dan ilmuwan  memiliki niatan  mulia: agar umat tidak secara sewenang-wenang menafsirkan budaya literasi yang ada dalam kandungan Alquran. Dalam penafsirannya yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan perangkat yang amat banyak: ilmu bahasa Arab, tajwid, ilmu kalam, ilmu alam, bahkan ilmu sosial yang amat, luas dan lainnya. Yang semua itu tentu tidak dimiliki para umat-awam. Persoalannya, apakah juga semua ilmu itu, dimiliki oleh seseorang dari para pemimpin dan ilmuwan di masa sekarang ini?

Dari namanya saja, Alquran itu dipahami sebagai bahan bacaan. Maka, fungsinya untuk dibaca.  Dalam hal ini metode Qiro’ati dan Iqro’ telah mampu menerobos ketidakberdayaan umat-awam dalam mencoba mempelajari Alquran. Dalam konteks pembudayaan literasi seperti di atas, maka siapa pun kita dan dengan latar belakang apa pun, kita patut mendukung pengembangannya.

Dari situ diharapkan akan memunculkan pemahaman (walau amat terbatas), juga  diharapkan mampu mengimplementasikannya (sejauh yang dipahami).

Lebih jauh menghasilkan tulisan pemikiran alternatif yang mungkin juga berguna bagi sesama umat-awam. Andai kemudian langkah ini ditengarai mengalami reduksi atau penyimpangan, maka para pemimpin dan ilmuwan itulah yang kemudian memberi pencerahannya dengan bijak dan baik.

Tentu ini akan jauh lebih bermakna dan bermanfaat daripada tradisi yang mengkultuskan Alquran sebagai ajimat. Dia dibungkus pakai kain putih, diberi wewangian dan disimpan di tempat khusus. Dia tak pernah disentuh, apalagi dibuka. Kondisi ini, seribu lima ratus tahun lalu, pernah diingatkan, “Jika Alquran ditulis dengan tinta emas, ditaruh pada lemari yang terbuat dari emas, dan disimpan pada gedung yang terbuat dari emas, namun tidak pernah dipelajari, maka tidak akan berguna sama sekali.”

Semoga kita terhindar dari yang demikian.

Dedi Pramono

Dosen Universitas Ahmad Dahlan